Di ujung sore

Ini adalah cerita kelanjutan dari cerita fiksi saya sebelumnya. jika kalian ingin membaca kisah fiksi ini kalian harus tahu cerita dipost saya sebelumnya (Para sahabat sunset). lets chekidot pemirsah. enjoy your day..^_^

 

***

Image“kamu tahu Natare, kenapa aku selalu tertawa diantara kamu dan Roy?” tanya Ai suatu sore di awal 47 detik terhebatku.

aku menoleh demi mendengar pertanyaan ganjil dari seorang Ai yang selalu riang dan tidak pernah menginterupsiku menyaksikan sunset terhebatku, tapi sore ini, demi mengucapkan kalimat itu Ai melakukan kebiasaan yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Ai menengadahkan wajahnya kelangit dan raut muka Ai begitu sendu dan suram, tidak seperti biasanya yang tersenyum kalem dengan gradasi Sunset terhebatku.

“kamu tahu Natare? kenapa?” Tanya Ai skali lagi kepadaku yang hanya diam tak menanggapi pertanyaan demi pertanyaan dari Ai, aku hanya menerka – nerka apa maksud kalimat Ai. aku hanya bisa menggeleng demi sebuah titik bening yang menggelincir dari pipi mulus Ai yang hilang dibalik jilbab warna soft pink yang Ai kenakan sore ini.

aku terkesiap mencoba mendekat dan menghapus air mata itu, tapi Ai mencegah tanganku untuk tidak mendekat menghapus air mata yang meleleh.

“karena…karena, aku menyukai Roy Natare,aku menyukainya semenjak dulu, semenjak aku dipertemukan dalam acara pecinta alam se DIY 7 tahun lalu”

pengakuan Ai membuat mimpiku seakan runtuh seketika. sahabatku ternyata memiliki perasaan yang sama denganku. tapi yang memedakannya hanyalah waktu Ai bisa menyimpan perasaanya begitu rapi dan aku ternyata belum ada apa – apanya dengan perasaanku sendiri, boleh dikatakan Ai lebih menderita daripada aku.

“kenapa kamu tidak mengatakannya Ai? kenapa?” tanyaku terkesan seperti bertanya pada diriku sendiri.

“untuk apa Natare?untuk apa? jika aku bisa selalu melihat Roy tertawa lepas denganmu yang selalu berpendapat dengan Sunrse dan Sunset kalian?!”

aku diam dengan pernyataan Ai. cukupkah hanya melihat orang yang dicintai bahagia, semua sudah selesai? aku rasa cinta tidak seperti itu. aku selalu beradu pendapat dengan Roy karena aku berusaha menghilangkan debaran dada yang menyesakkan, mencoba menyamarkan suara gemuruh detak jantungku supaya tidak terdengar oleh Roy. aku menggelengkan kepalaku berkali – kali untuk bisa mencerna kata – kata A, tapi tidak bisa.Image

“Ai..kamu benar – benar mencintai Roy?” akhirnya aku memutuskan untuk meyakinkan perasaanku sendiri dengan menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah terjawab dari tadi.

” aku mencintainya lebih dari Sunrise dan Sunset yang selalu kalian bahas Natare” skali lagi jawaban Ai membuatku terkesima dan sakit secara bersamaan.

“sebegitu dalamnya kah perasaan Ai?” tanyaku dalam hati sekaligus menyadarkanku tentang perasaan yang sekarang bersemayam didalam hatiku sendiri. perasaan yang sama seperti Ai. perasaan yang selalu membuat hari – hariku lebih dari macam warna pelangi. tapi hari ini dipenghujung soreku, aku harus mencoba menerima kenyataan ini. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya dengan perasaan ini? dengan perasaan diantara persahabatan kita?

Advertisements

2 thoughts on “Di ujung sore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s