Nama itu saya sebut

Ini adalah kisah ke-3 dari Natare, Roy dan Aisyah. kisah kelanjutan dari cerita Diujung sore. lets cek it dot….

* * *

Imagehari ini minggu ke-3. kebiasaan saya untuk menemani sahabat saya Natare melihat sunset setelah pulang kantor. saya prepare lebih awal dikarenakan Natare adalah orang paling ontime yang pernah saya kenal. Berbanding terbalik dengan sahabat saya satu lagi. 47 detik menakjubkan yang selalu Natare ungkap sebentar lagi berakhir dan wajah Natare selalu berseri seri setelahnya, biasanya saya juga akan ketularan, tapi hari ini sepertinya saya harus mengungkapkan sebuah rahasia, rahasia hati yang saya simpan sendiri selama enam tahun ini. karena hati saya benar – benar seperti tidak kuat lagi menyimpannya sendiri.

“kamu tahu Natare, kenapa aku selalu tertawa diantara kamu dan Roy?” akhirnya saya menyebut nama sahabat tercinta itu. Akhirnya saya bisa mengucapkan nama itu didepan orang lain meskipun orang lain yang saya maksud itu juga sahabat saya sendiri. Dan sepertinya Natare kaget dengan pernyataan saya. dan saya harus mengulanginya lagi dan Natare menggeleng dengan air mata saya yang malah menetes, padahal saya sudah membentenginya dengan menengadahkan kepala saya. sepertinya saya gagal untuk hari ini, setelah enam tahun saya mencoba kuat.

Biarlah. biarlah untuk hari ini Natare melihat sisi egois dan lemah saya, yang tidak pernah saya tunjukan kepada kedua sahabat saya tersebut.

“Karena…karena, aku menyukai Roy Natare, aku menyukainya semenjak dulu, semenjak aku dipertemukan dalam acara pencinta alam se DIY enam tahun lalu” sesak didada saya akhirnya terbagi. Natare masih diam menghadap saya sepenuhnya, entah apa yang dipikirkannya, yang jelas Natare shock karena saya tidak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya.

“kenapa kamu tidak mengatakannya Ai?? kenapa??” pertanyaan Natare yang terasa ganjil di pendengaran saya dan hati saya. seperti ada sesuatu yang tersembunyi dari kalimat tanya Natare, tapi entah apa itu, tapi kepedulian saya terhadap Natare sedang dilevel terendah, karena pikiran saya dan kepedulian saya sedang tertuju pada Roy.

” untuk apa Natare? untuk apa? jika aku bisa selalu melihat Roy tertawa lepas denganmu yang selalu berpendapat dengan Sunrise dan Sunset kalian”

sepertinya Natare orang yang mudah shock. dua kali, saya melihat Raut wajah Natare yang aneh. dan sepertinya saya selama ini kurang memperhatikan Natare karena sifat Natare yang seperti inipun saya kurang tahu. sekarang ini otak saya benar – benar kacau. selain Roy semua berkesan abu – abu. “maafkan aku Natare, karena hari ini aku bersikap egois sama kamu” ucap saya dalam hati.

“Ai kamu benar – benar mencintai Roy?” pertanyaan kedua Natare yang sudah terkendali, dan memang seperti itulah Natare yang saya kenal cepat menguasai dirinya.

“aku mencintainya lebih dari Sunset dan Sunrise yang selalu kalian bahas berdua Natare” kalimat penghantar matahari hilang ditelan lautan malam. kalimat penutup Sunset kebanggaan Natare.

Hari ini, akan menjadi hari kebanggan saya, karena sebuah kejujuran yang bertahun – tahun saya simpan seorang diri. sebuah keberanian yang mengungkap sisi lain dari seorang Natare yang selalu tersenyum. Natare…apa yang terjadi padamu??

# tunggu kisah selanjutnya ^_^

Advertisements

Di ujung sore

Ini adalah cerita kelanjutan dari cerita fiksi saya sebelumnya. jika kalian ingin membaca kisah fiksi ini kalian harus tahu cerita dipost saya sebelumnya (Para sahabat sunset). lets chekidot pemirsah. enjoy your day..^_^

 

***

Image“kamu tahu Natare, kenapa aku selalu tertawa diantara kamu dan Roy?” tanya Ai suatu sore di awal 47 detik terhebatku.

aku menoleh demi mendengar pertanyaan ganjil dari seorang Ai yang selalu riang dan tidak pernah menginterupsiku menyaksikan sunset terhebatku, tapi sore ini, demi mengucapkan kalimat itu Ai melakukan kebiasaan yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Ai menengadahkan wajahnya kelangit dan raut muka Ai begitu sendu dan suram, tidak seperti biasanya yang tersenyum kalem dengan gradasi Sunset terhebatku.

“kamu tahu Natare? kenapa?” Tanya Ai skali lagi kepadaku yang hanya diam tak menanggapi pertanyaan demi pertanyaan dari Ai, aku hanya menerka – nerka apa maksud kalimat Ai. aku hanya bisa menggeleng demi sebuah titik bening yang menggelincir dari pipi mulus Ai yang hilang dibalik jilbab warna soft pink yang Ai kenakan sore ini.

aku terkesiap mencoba mendekat dan menghapus air mata itu, tapi Ai mencegah tanganku untuk tidak mendekat menghapus air mata yang meleleh.

“karena…karena, aku menyukai Roy Natare,aku menyukainya semenjak dulu, semenjak aku dipertemukan dalam acara pecinta alam se DIY 7 tahun lalu”

pengakuan Ai membuat mimpiku seakan runtuh seketika. sahabatku ternyata memiliki perasaan yang sama denganku. tapi yang memedakannya hanyalah waktu Ai bisa menyimpan perasaanya begitu rapi dan aku ternyata belum ada apa – apanya dengan perasaanku sendiri, boleh dikatakan Ai lebih menderita daripada aku.

“kenapa kamu tidak mengatakannya Ai? kenapa?” tanyaku terkesan seperti bertanya pada diriku sendiri.

“untuk apa Natare?untuk apa? jika aku bisa selalu melihat Roy tertawa lepas denganmu yang selalu berpendapat dengan Sunrse dan Sunset kalian?!”

aku diam dengan pernyataan Ai. cukupkah hanya melihat orang yang dicintai bahagia, semua sudah selesai? aku rasa cinta tidak seperti itu. aku selalu beradu pendapat dengan Roy karena aku berusaha menghilangkan debaran dada yang menyesakkan, mencoba menyamarkan suara gemuruh detak jantungku supaya tidak terdengar oleh Roy. aku menggelengkan kepalaku berkali – kali untuk bisa mencerna kata – kata A, tapi tidak bisa.Image

“Ai..kamu benar – benar mencintai Roy?” akhirnya aku memutuskan untuk meyakinkan perasaanku sendiri dengan menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah terjawab dari tadi.

” aku mencintainya lebih dari Sunrise dan Sunset yang selalu kalian bahas Natare” skali lagi jawaban Ai membuatku terkesima dan sakit secara bersamaan.

“sebegitu dalamnya kah perasaan Ai?” tanyaku dalam hati sekaligus menyadarkanku tentang perasaan yang sekarang bersemayam didalam hatiku sendiri. perasaan yang sama seperti Ai. perasaan yang selalu membuat hari – hariku lebih dari macam warna pelangi. tapi hari ini dipenghujung soreku, aku harus mencoba menerima kenyataan ini. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya dengan perasaan ini? dengan perasaan diantara persahabatan kita?

Para sahabat Sunset

cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. let’s chek it dott…!!

***

 Image ini adalah ceritaku tentang 47 detik yang selalu aku kagumi. tentang 47 detik matahari menjemput sang malam dan meninggalkan gradasi terindah yang selalu memuatku untuk bermimpi akan jemari yang menguatkanku dipenghujung hari. inilah ceritaku tentang dia dan sunset.

Namanya Roy. Dia sahabatku. Dia tidak menyukai sunset karena dia selalu mencintai Gunung dan Sunrise. Tapi aku mencintainya dengan setulus hatiku meskipun dia tidak mengetahui urusan perasaan ini.

Namanya Aisyah dan aku selalu memanggilnya dengan Ai. Lebih singkat. itu saja alasannya. Ai sahabatku dan Roy. Tapi Ai lebih lama bersahabat dengan Roy daripada aku. Aku hanya orang asing yang datang diantara kisah persahabatan Roy dan Ai. tapi dengan lapang hati Roy dan Ai selalu menerima keberadaanku diantara kisah sejati mereka. Ai tidak menyukai Sunset ataupun Sunrise, tapi juga tidak menghindarinya. Ai selalu menjadi penengah diantara aku dan Roy. Ai selalu menjadi gradasi indah diantara aku dan Roy. selalu begitu.

Aku. Namaku Renata. Roy selalu memanggilku Rena. selalu memberikan informasi tentang tempat baru padaku terutama pantai. meskipun Roy tidak menyukai sunset. Roy. dia adalah alasanku kenapa aku selalu tertawa, alasanku kenapa aku mempunyai mimpi tentang hal terindah ketika sunset. Ai, dengan alasan konyolnya Ai selalu memanggilku dengan sebutan Natare. Ai memanggilku begitu katanya aku mirip dengan orang jepang, padahal kalau kalian tahu aku adalah orang jawa tulen. meskipun merasa ganjil ditelingaku tapi setelah tiga tahun berteman dengan Ai semua serasa biasa saja.

aku selalu menyukai Roy dan Ai sebagai sahabat terbaikku disamping rasa yang terus tumbuh subur ini. aku mencintai Roy dan Roy tidak perlu tahu urusan perasaan ini, apalagi Ai, dia tidak perlu tahu, mereka tidak perlu tahu. cukup aku dan sunsetlah yang tahu jika aku menyukai Roy, diantara kisah persahabatan kita bertiga ini. aku akan tertawa dan bahagia diantara mereka. seperti halnya aku mencintai sunset tanpa sunrise mengetahuinya.